Jl.H.Ramli No.24, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan 12870 | Tel (021)8303111 | Fax (021)8318217 | E-mail sanfransis@gmail.com

SELAMAT DATANG, PINTU PESTA TUHAN TELAH TERBUKA UNTUK ANDA, SILAHKAN MASUK... "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. Jagalah dirimu di hadapannya dengarkanlah perkataannya" (Kel 23:20-21)

Halaman Muka | Renungan Harian | Dewan Paroki | Wilayah dan Lingkungan | Foto

Jumat, September 30, 2011

30 September 2011
Pw St. Hieronimus, ImPujG (P)

”Celakalah engkau Khorazim! Celaka­lah engkau Betsaida! karena ji­ka di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu peng­hakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaik­kan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturun­kan sampai ke dunia orang mati!

Barangsiapa mendengarkan kamu, ia men­dengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”


Renungan
Hari ini, kita mendengar dari Injil bahwa Tuhan Yesus memanggil para murid-Nya untuk menjalankan tugas perutusan-Nya. Mereka harus mengerjakan apa yang pernah dikerjakan oleh Yesus. Mereka diutus untuk mewartakan kebaikan Tuhan yang menyelamatkan.

Betapa pentingnya peranan kehadiran para utusan dalam karya keselamatan. Mereka dijadikan tanda orang yang mengutusnya. Mereka menjadi tanda kehadiran Tuhan sendiri. Tanpa ragu Yesus menegaskan, siapa yang menolak utusan-Nya sama dengan menolak diri-Nya. Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang yang diutus-Nya. Untuk itu, hidup dan kehadiran para utusan harus menampakkan kehadiran Yesus sendiri.

Para utusan menjadi perantara antara Allah dan manusia. Antara Allah yang menyelamatkan dan umat yang diselamatkan. Dialog di antara keduanya sering diwakili oleh para utusan. Melihat pentingnya peranan mereka, kita harus menghargai dan mendengarkan mereka.

Kisah panggilan para murid ini mengajak kita untuk belajar menghargai orang-orang yang dipilih dan diutus Allah. Kita belajar mendengarkan Firman Allah melalui mereka.

Ya Tuhan, Engkau menyelamatkanku melalui para utusan-Mu. Ajarilah aku untuk terbuka terhadap kehadiran dan pewartaan mereka. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Kamis, September 29, 2011

29 September 2011
Pekan Biasa XXVI
Pesta St. Mikhael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung (P); St. Siriakus; Sta. Theodota dr Philippopolis

Kata Filipus kepadanya: ”Mari dan lihat­lah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: ”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: ”Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: ”Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: ”Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: ”Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Renungan
Hari ini kita merayakan pesta para malaikat. Mereka adalah para pelayan Allah yang sangat setia. Selain itu, mereka juga diberi tugas yang sangat mulia, melindungi dan menyertai hidup orang-orang beriman.

Malaikat Mikhael adalah malaikat agung Allah dan panglima bala tentara surga. Mikhael dikenal sebagai pembela kaum beriman menghadapi serangan musuh. Dalam Kitab Wahyu, Yohanes menggambarkan pertentangan antara yang baik dan yang jahat (Why. 12:7–12). Oleh karena itu, Gereja memandang Mikhael sebagai pelindung serta pembela Gereja dalam penganiayaan, godaan, dan perpecahan. Adapun malaikat agung yang lain adalah Gabriel yang dikenal sebagai pembawa kabar gembira dari Tuhan kepada manusia. Dia diutus membawa kabar gembira kepada Bunda Maria. Sementara itu, Malaikat Rafael, sebagai tabib Allah diutus untuk menyembuhkan manusia dari penyakit dan menguatkan kelemahan jiwa serta membebaskan manusia dari perhambaan setan (baca Tob. 4–12).

Para malaikat adalah pribadi-pribadi yang setia melayani Allah. Maka, patut mendengarkan teguran dan nasihatnya. Mereka diberikan kepada kita sebagai teman yang baik dalam perjalanan hidup dan iman kita.

Ya Tuhan, Engkau mengutus para malaikat-Mu untuk menyertai dan melindungi perjalanan hidupku. Buatlah aku menghargai kehadiran dan peranannya. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Rabu, September 28, 2011

28 September 2011
Pekan Biasa XXVI (H)
St. Wenseslaus; Sta. Eustakia; St. Laurensius Ruiz, Yakobus Kyushei Tomonaga, dan Dominikus Ibanez (Mrt. dr Jepang)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya me­lanjutkan perjalanan mereka, ber­katalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: ”Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: ”Serigala mem­punyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang lain: ”Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: ”Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beri­ta­kanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”

Dan seorang lain lagi berkata: ”Aku akan meng­ikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pa­mitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”


Renungan
Banyak orang yang mau mengikuti Yesus, tetapi tidak banyak yang sanggup menjalaninya. Ada banyak alasan yang membuat orang tidak sanggup menanggapi panggilan Yesus. Untuk mengikut-Nya, orang harus berani meninggalkan urusan yang penting, bahkan yang paling penting sekali pun. Tanpa ragu Dia berkata, ”Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Yesus dan tugas memberitakan Kerajaan Allah harus menjadi prioritas hidup orang yang akan mengikuti-Nya. Sementara itu, Yesus tidak pernah menjanjikan kelimpahan materi terhadap orang-orang yang mengikuti-Nya. Dengan tegas Dia berkata, ”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Mengikuti Yesus sesuai Sabda dan teladan Yesus hari ini benar-benar tidak mudah. Tuntutannya tidak ringan, bahkan terasa berat sekali. Yesus memberikan tuntutan yang keras dan tegas kepada setiap orang yang mengikuti-Nya untuk menguji kesungguhan mereka. Sebab, jalan yang akan ditempuh murid Yesus adalah jalan Yesus sendiri. Penderitaan dan kematian merupakan jalan utama yang harus dilewati Yesus dan setiap orang yang mengikuti-Nya.

Ya Yesus yang baik, Engkau telah menunjukkan jalan kesempurnaan kepadaku. Berkatilah aku agar mampu menghayati jalan yang telah Kautunjukkan kepadaku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Selasa, September 27, 2011

27 September 2011
Pekan Biasa XXVI
Pw St. Vinsensius de Paul, Im (P)

Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarah­kan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: ”Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Renungan
Kekerasan tidak seharusnya dibalas dengan kekerasan. Untuk memadamkan api bukan dengan api, melainkan dengan air. Prinsip kehidupan seperti itulah yang hendak dipraktikkan Yakobus dan Yohanes terhadap orang-orang Samaria yang dianggap menghambat dan menghalangi perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Orang-orang Samaria menolak kehadiran Yesus yang mau melewati desa mereka. Yakobus dan Yohanes bermaksud membalas perbuatan orang-orang Samaria tersebut. Namun, Yesus tidak menyetujui tindakan mereka, bahkan Yesus menegur mereka. Yesus tidak pernah memperbolehkan para murid-Nya menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan. Dalam situasi yang sesulit apa pun, para murid harus tetap mengedepankan kasih dan kelembutan.

Penolakan merupakan salah satu pengalaman yang menyakitkan kehidupan kita. Pengalaman ditolak dapat membuat kita kecewa, marah, dan benci. Meski demikian, pengalaman pahit seperti itu tidak boleh melunturkan kebaikan hati kita. Penolakan hendaknya kita terima sebagai ujian atas iman kita. Mengikuti Yesus berarti mengikuti penderitaan dan kematian-Nya. Kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kekerasan.

Ya Tuhan Yesus, Engkau tidak mengizinkanku membalas kejahatan dengan kekerasan, melainkan dengan kasih. Untuk itu, aku mohon lembutkanlah hatiku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Senin, September 26, 2011

26 September 2011
Pekan Biasa XXVI (H)
St. Kosmas dan Damianus; St. Siprianus dan Sta. Yustina B. Gaspar Strangassinger; St. Elzear & Delfina

Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: ”Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata: ”Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya: ”Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

Renungan
Untuk menanggapi ambisi para murid-Nya menjadi orang besar, Yesus menempatkan seorang anak di hadapan mereka. Dan tanpa ragu, Dia mengatakan bahwa kalau ingin menjadi yang terbesar, mereka harus terlebih dahulu menjadi yang terkecil. Sebelum ”membesar”, kita harus berani ”mengecil” dahulu. Itulah proses kehidupan yang harus ditempuh Yesus dan para murid-Nya. Jalan untuk meninggikan diri adalah dengan cara merendahkan diri.

”Mengecil untuk membesar”, inilah jalan kesempurnaan yang ditunjukkan Yesus kepada para murid-Nya dan kepada kita semua. Jalan ini telah dibuktikan oleh seorang santa yang berasal dari Prancis, yakni Santa Theresia dari Lisieux. Tanpa ragu, dia memperkenalkan jalan kecilnya untuk mencapai kesempurnaan. Kerendahan hati menjadi keutamaan hidupnya. Tuhan sungguh berkenan dengan orang yang rendah hati. Bagi mereka, Tuhan akan menyediakan tempat yang sangat mulia.
Karya Tuhan yang besar sering tersembunyi dalam hal-hal kecil. Tuhan yang besar menyembunyikan diri-Nya dalam hal-hal kecil. Oleh karena itu, kalau kita mau bertemu dengan Tuhan, mulailah menghargai dan melakukan hal-hal kecil.

Ya Tuhan, semua orang berharga di hadapan-Mu. Mereka sangat Kauperhatikan dan Kaupelihara, terutama mereka yang lemah dan tidak berdaya. Semoga hatiku bisa menjadi seperti hati-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Jumat, September 23, 2011

23 September 2011
Pekan Biasa XXV
Pw St. Padre Pio dr Pietrelcina, Im (P); St. Linus; Sta. Tekla

Jawab mereka: ”Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka: ”Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: ”Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.
Dan Yesus berkata: ”Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”


Renungan
Yesus ingin mendapat kepastian dari para murid-Nya: apakah mereka sungguh mengenal diri-Nya? Maka, Dia bertanya kepada mereka secara pribadi siapakah diri-Nya. Jawaban yang diberikan Petrus sangat memuaskan Yesus. Mereka mengakui dengan penuh iman bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah. Meski demikian, jawaban tersebut masih harus mereka buktikan dalam hidup mereka. Yesus menuntut iman para murid-Nya secara pribadi. Iman yang berasal dari pengenalan secara pribadi dengan diri-Nya.

Hari ini, Tuhan Yesus juga meminta ketegasan iman dari kita. Yesus juga melontarkan pertanyaan yang sama. Jawaban kita akan sangat ditentukan oleh pengenalan kita terhadap Yesus dan ajaran-Nya selama ini. Mengenal berarti mengalami Yesus secara pribadi. Tidak hanya sekadar mengikuti omongan orang lain. Iman seperti itulah yang dikehendaki Yesus dari kita. Iman yang didasarkan pada suatu pengenalan tidak akan mudah luntur dan runtuh.

Mengenal Yesus secara pribadi merupakan jalan yang benar untuk sampai kepada Yesus. Agar dapat mengenal Yesus dengan sungguh, kita harus membuka diri kita lebar-lebar terhadap kehadiran dan bimbingan-Nya.

Ya Yesus, sudilah Engkau meneguhkan imanku. Anugerahilah aku iman seperti yang dimiliki Petrus, murid-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Kamis, September 22, 2011

22 September 2011
Pekan Biasa XXV (H)
St. Thomas dr Vilkanova; St. Mauritius, dkk; St. Ignatius dr Santhi; Yusuf Calasanz Marques; Henrikus Saiz, dkk.

Herodes, raja wilayah, mendengar se­gala yang terjadi itu dan ia pun me­rasa cemas, sebab ada orang yang menga­takan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: ”Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.

Renungan
Kecemasan dan kegelisahan senantiasa menghantui orang-orang yang sedang berkuasa. Bagi mereka, setiap orang patut dicurigai dan diwaspadai keberadaan-Nya.

Rupanya, itulah yang dialami oleh Herodes, raja wilayah. Dia gelisah dan cemas dengan kehadiran dan pengaruh Yesus dalam masyarakat. Segala yang dilakukan Yesus, tampaknya mengingatkan dia terhadap Yohanes Pembaptis yang telah dipenggal kepalanya. Dia khawatir bahwa pengaruh ajaran-Nya akan membahayakan kekuasaannya. Oleh karena itu, Herodes ingin mencari tahu tentang Yesus. Dia menganggap Yesus sebagai saingan beratnya.

Kekuasaan bukanlah jaminan keselamatan hidup kita. Karena jabatan, kita tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena kekuasaan, kita menjadi orang yang mudah curiga terhadap orang lain. Kehadiran orang lain, kita anggap sebagai saingan. Kita menjadi takut terhadap keberadaan dan karya orang lain. Namun, semua itu tidak akan terjadi bila kita mengemban jabatan atau kekuasaan kita untuk melayani, bukan untuk menguasai sesama kita.

Ya Tuhan, berilah aku hati yang suci. Jauhkanlah diriku dari sikap curiga terhadap sesamaku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Rabu, September 21, 2011

21 September 2011
Pekan Biasa XXV
Pesta St. Matius, Rasul & Pengarang Injil (M)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: ”Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: ”Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Renungan
Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Banyak yang dipanggil oleh Tuhan, tetapi sangat sedikit orang yang membuka diri dan bersedia menanggapi panggilan-Nya.

Panggilan adalah kerja sama antara Tuhan dan manusia.
Yesus memanggil Matius untuk mengikuti-Nya. Tanpa menunda, Matius segera mengikuti Yesus. Yesus memanggil orang berdosa untuk menjadi murid-Nya. Dia memilih orang yang tersingkirkan oleh kebanyakan orang untuk menjadi rasul-Nya. Sikap dan tindakan Yesus ini tentu menimbulkan tanda tanya bagi orang-orang yang ada disekitarnya, terutama bagi orang Farisi. Yesus memanggil dan memilih orang berdosa untuk menjadi murid dan rasul-Nya. Itulah misteri panggilan Matius yang kita rayakan pestanya hari ini.

Misteri panggilan Matius bisa juga menjadi misteri panggilan orang-orang yang terpanggil pada zaman sekarang ini. Tuhan memanggil orang-orang yang dianggap lemah untuk menjadi orang pilihan-Nya. Asal kita mau membuka diri dan bersedia menjawab panggilan-Nya, Yesus akan menyempurnakan apa yang kurang dari diri kita.

Tuhan Yesus, Engkau memanggil orang berdosa untuk menjadi orang pilihan-Mu. Kelemahan dan kekurangan manusia tidak pernah membatalkan rahmat panggilan-Mu. Buatlah aku agar hari ini tidak menunda untuk menjawab panggilan-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Selasa, September 20, 2011

Gema 17-18 Sep'2011




20 September 2011
Pekan Biasa XXV
Pw St. Andreas Kim Tae-gon, Im dan Paulus Chong Ha-sang, dkk, Mrt- Korea (M); Sta. Kolumba dan Pamposa; St. Eustakius

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya: ”Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka: ”Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Renungan
Hari ini, Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya bagaimana mereka harus membangun persaudaraan yang sejati. Persaudaraan yang dihayati para murid-Nya harus melampaui batas-batas manusiawi. Mereka hendaknya bersaudara tidak hanya dengan mereka yang sedarah, melainkan dengan semua orang yang sama-sama mau mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah. Yang menjadi dasar persaudaraan mereka adalah Yesus dan kehendak Allah. Siapa pun yang mau mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah itulah saudara mereka.

Hari ini kita juga diajak Yesus untuk membangun persaudaraan berdasarkan iman kita. Kita membangun persaudaraan yang lebih inklusif. Janganlah bersaudara hanya dengan mereka yang sehati dan sepikiran dengan kita, melainkan dengan siapa pun yang punya kemauan baik untuk melaksanakan kehendak Allah. Kita harus keluar dari kelompok kita. Orang Kristiani harus menjadi suatu persekutuan yang terbuka terhadap siapa pun. Hanya dengan demikianlah, hidup kita akan menjadi tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan.

Ya Yesus, Engkau menghendakiku untuk membangun persaudaraan melampaui batas-batas kemanusiaanku. Jadikanlah hidup kebersamaanku menjadi suatu kesaksian akan kehadiran-Mu yang nyata. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Senin, September 19, 2011

19 September 2011
Pekan Biasa XXV (H)
St. Yanuarius; St. Theodorus; Sta. Emilia de Rodat; St. Fransiskus Maria dr Camporosso; SP Maria la Salette

”Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tem­payan atau menempatkannya di ba­wah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”

Renungan
Kehadiran dan karya Yesus membawa terang bagi orang-orang pada zamannya. Sikapnya terhadap orang berdosa memberikan harapan baru. Tindakannya yang revolusioner menggelisahkan hati para penguasa. Kehadiran dan karya Yesus bagaikan lilin yang menerangi hidup manusia yang berada dalam kegelapan. Warta gembira yang dibawa Yesus menjadikan manusia menemukan keselamatan yang sesungguhnya.

Selanjutnya, Yesus berharap agar para murid-Nya dapat melanjutkan tugas yang sangat mulia ini. Melalui hidup mereka, makin banyak orang mengenal Dia. Melalui karya mereka, makin banyak orang diselamatkan. Warta gembira harus diwartakan, bukan disembunyikan. Hidup para murid harus mampu menjadi terang bagi orang-orang di sekitarnya. Singkatnya, lewat para murid-Nya, makin banyak orang memperoleh keselamatan.

Harapan Yesus terhadap para murid-Nya, juga menjadi harapan Yesus terhadap kita semua pada zaman sekarang ini. Dia berharap agar hidup kita juga mampu menjadi terang bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Hidup kita akan menjadi terang kehidupan bila hidup kita menampakkan cara, sikap, dan tindakan Yesus sendiri.

Ya Yesus, hidup dan karya-Mu menjadi terang bagi kehidupanku yang kadang terasa gelap. Jadikanlah hidupku menjadi terang bagi sesama yang ada di sekitarku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Jumat, September 16, 2011

16 September 2011
Pekan Biasa XXIV
Pw St. Kornelius, Paus & St. Siprianus, UskMrt (M); Sta. Eufemia

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perem­puan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Renungan
Di tengah dunia yang penuh prestasi dan persaingan, banyak orang mengalami kekosongan. Banyak orang menjadi putus asa karena mereka merasa tidak mempunyai peranan lagi dalam kehidupannya.

Ketika memberitakan Kerajaan Allah, Yesus tidak hanya melibatkan para murid-Nya, melainkan juga para perempuan yang melayani-Nya. Yesus juga melibatkan mereka yang dianggap lemah dan tidak berdaya. Dalam masyarakat Yahudi, kaum perempuan kurang mendapat tempat, bahkan tidak termasuk hitungan. Justru dalam situasi masyarakat yang demikian itu, Yesus memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk mengikuti diri-Nya. Dalam kerajaan-Nya, semua mempunyai peranannya masing-masing.

Menghargai dan menerima siapa pun, bahkan mereka yang dianggap lemah dan tidak berdaya harus menjadi ciri khas hidup orang beriman. Semua orang penting dan berguna dalam kehidupan.

Hidup kita sebagai umat beriman akan menjadi indah bila satu sama lain saling menghargai dan menerima. Kita diundang Rasul Paulus untuk menghindari sikap dan tindakan yang bertentangan dengan iman, kasih, dan kelembutan.

Ya Tuhan, yang lemah dan tidak berdaya selalu Kauperhatikan dan Kauperlihara. Buatlah aku juga menghargai dan menerima sesamaku apa adanya. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Kamis, September 15, 2011

Kamis, 15 September 2011
Pw SP Maria Berdukacita (P);
Sta. Katarina Fieschi dr Genoa; St. Nikomedes


Renungan
Gereja Katolik mengakui Bunda Maria sebagai sebuah rahmat dari Tuhan bagi umat-Nya. Bahkan, di dalam Gereja Katolik, ada banyak devosi kepada Bunda Maria, seperti Doa Rosario dan Novena Tiga Salam Maria.

Dalam sebuah diskusi, ada seseorang yang bertanya, ”Apakah berdoa di depan patung Bunda Maria tidak bisa disamakan dengan menyembah berhala?” Jawabnya tentu ”tidak”. Umat Katolik tidak [boleh] menyembah patung Bunda Maria. Kita hanya berdoa memohon perlindungan dan perantaraan Bunda Maria. Adapun patung hanyalah sarana untuk mendekatkan kita dengan Bunda yang kita ajak berbicara—seperti ibu kita.

Hari ini kita memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Mengapa Bunda Maria berdukacita? Semasa hidupnya, sebagai bunda Yesus, Maria sering kali berduka. Gereja Katolik memberinya gelar Mater Dolorosa (Bunda Dukacita). Kita pun sering mendengar istilah Tujuh Kedukaan Maria. Nubuat Simeon dalam Injil hari ini adalah salah satu dari kedukaan Maria itu. Kedukaan yang lainnya adalah pengungsian ke Mesir; Yesus hilang di Bait Allah pada usia 12 tahun; Yesus ditangkap, diadili, dan disiksa dalam Jalan Salib; Yesus disalibkan dan wafat; Yesus diturunkan dari salib dan dibaringkan di pangkuannya; Yesus dimakamkan. Namun, Bunda Maria tidak pernah mengeluh dan menyalahkan siapa pun. Ia selalu menyimpan segala duka itu di dalam hati dan merenungkannya (bdk. Luk. 2:19)—hal yang patut kita teladani.

Sampai saat ini pun, Bunda Maria masih sering berduka. Apakah yang menyebabkannya? Ia berduka jika kita menghina Yesus dengan banyak melakukan dosa. Ia berduka jika kita melanggar hukum kasih Allah.

Ya Bapa, terima kasih karena Engkau telah memberikan seorang Bunda sebagai rahmat bagiku. Ya Bunda Maria, doakanlah aku yang berdosa ini, sekarang dan waktu aku mati. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Rabu, September 14, 2011

14 September 2011
Pesta Salib Suci (M)
St. Yohanes Gabriel Dufresse

”Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Renungan
Tidak terlalu sulit menerima penderitaan yang berasal dari kesalahan kita sendiri. Namun, tidak terlalu mudah menerima penderitaan yang disebabkan oleh kesalahan sesama kita; mungkin kita akan jadi marah dan jengkel. Bahkan, kita tidak bersedia untuk menanggungnya. Akan tetapi, kemuliaan hati seseorang justru tampak dalam kesediaannya untuk menanggung penderitaan akibat kesalahan sesamanya.

Keluhuran hati Allah sungguh menjadi nyata dalam diri Yesus yang tersalib. Melalui salib itu, tampak kesediaan Allah untuk menanggung kesalahan dan dosa manusia. Salib menjadi tanda pengurbanan Yesus terhadap hidup umat manusia. Dan, Yesus rela menanggung semua itu karena Yesus mengasihi umat manusia. Salib Yesus bukan lagi menjadi tanda hukuman, melainkan tanda kasih Allah kepada kita.

Hari ini, Gereja merayakan pesta Salib Suci. Pesta ini merupakan ungkapan Gereja terhadap Salib Yesus sebagai jalan keselamatan. Maka, seluruh umat beriman diundang untuk merenungkan pengurbanan yang telah diberikan Yesus kepada kita. Dan selanjutnya, Gereja juga mau mengajak kita untuk memiliki kesiapsediaan menanggung kesalahan sesama kita.

Ya Bapa, karena kasih-Mu kepadaku, Engkau membiarkan Putra-Mu memanggul salib. Bapa, ajarilah aku memanggul salibku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Selasa, September 13, 2011

13 September 2011
Pekan Biasa XXIV
Pw St. Yohanes Krisostomus, UskPujG (P)

Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya ber­bon­dong-bondong. Setelah Ia dekat pintu ger­bang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: ”Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: ”Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bang­kitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus me­nyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: ”Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan ”Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Renungan
Banyak orang yang mudah kasihan, tetapi sedikit yang memiliki kasih bagi sesamanya. Banyak orang menolong sesamanya karena kasihan, bukan karena kasih. Dua kata yang sangat mirip, tetapi memiliki arti dan makna yang berbeda.

Ketika melihat kematian anak seorang janda, Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan. Kasihlah yang menggerakkan Yesus untuk menghidupkan kembali anak muda itu dari kematian. Perbuatan Yesus ini adalah perbuatan Allah sendiri. Allah menyelamatkan manusia bukan hanya karena kasihan, melainkan karena kasih. Melihat karya Yesus seperti itu, banyak orang kagum dan memuliakan Allah.

Dengan teladan hidup-Nya ini, Yesus mengajak para murid-Nya dan kita semua untuk melakukan perbuatan baik kita atas dasar kasih, bukan hanya sekadar kasihan. Perbuatan baik yang dilakukan dengan kasih akan mendatangkan kemuliaan Allah, sedangkan perbuatan baik yang dilakukan hanya karena kasihan hanya akan mendatangkan kemuliaan bagi kita sendiri.

Hidup persekutuan kita dalam jemaat akan terasa indah bila didasari dan disemangati dengan kasih, kasih seperti yang dimiliki oleh Yesus sendiri.

Ya Tuhan, melalui Putra-Mu, Yesus Kristus, Engkau sungguh mengasihiku dan tidak membiarkanku berjuang sendirian. Kehadiran-Mu senantiasa memberikan harapan. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Sabtu, September 10, 2011

Kamis, September 08, 2011

8 September 2011
Pekan Biasa XXIII
Pesta Kelahiran SP Maria (P)


Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham mem­per­anak­kan Ishak, Ishak memper­anakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mem­per­anakkan Peres dan Zerah dari Tamar, ....

Sesudah pem­buangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel mem­per­­anak­kan Zerubabel, Zerubabel mem­per­anak­kan Abihud, Abihud mem­peranakkan Elyakim, Elyakim memper­anakkan Azor, Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanak­kan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar mem­peranakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: ”Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.


Renungan
Hari ini Gereja sedunia merayakan pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Perayaan hari ini mau mengungkapkan iman Gereja kepada karya Allah yang sungguh nyata dalam hidup Maria. Gereja sungguh menghormati dan mengasihi Maria sebagai perempuan yang mempunyai peranan yang sangat besar dalam karya keselamatan Allah.

Dalam karya keselamatan-Nya, Allah memanggil dan memilih Maria sebagai ibu Yesus. Sebagai ibu, Maria mengandung, melahirkan, dan membesarkan Yesus. Banyak persoalan yang menantang dalam menjalankan tugas panggilannya ini. Banyak peristiwa aneh yang Dia jumpai dan sulit untuk dipahami. Meski demikian, Dia tetap mau belajar untuk percaya dan taat menjalaninya. Allah tidak pernah salah memilih orang. Dia memilih orang yang tepat untuk menjalankan tugas sesuci itu.

Pesta hari ini menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk merenungkan karya Allah dalam hidup Maria. Dan sampai sekarang pun, Allah masih membutuhkan orang-orang seperti Maria. Orang-orang yang mau terbuka terhadap panggilan-Nya dan terlibat dalam karya penyelamatan-Nya.

Ya Allah, Engkau memilih Maria menjadi tempat kediaman-Mu di dunia ini. Kudus­kanlah hidupku untuk menjadi tempat kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Rabu, September 07, 2011

7 September 2011
Pekan Biasa XXIII (H)
Sta. Regina


Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: ”Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Ber­bahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan ber­gembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

Renungan
Banyak orang yang mencari kebahagiaan, tetapi hanya sedikit yang menemukannya. Sebab, mereka mencari kebahagiaannya tidak pada Allah, melainkan pada hal-hal duniawi.

Pada hari ini, Tuhan Yesus menunjukkan letak dan jalannya. Bagi Yesus, hidup bahagia terletak hanya pada Allah. Kalau kita sungguh percaya dan menggantungkan seluruh hidup kita pada Allah, maka kita akan menemukan kebahagiaan yang sejati. Sabda bahagia dan sabda celaka yang diucapkan Yesus pada hari ini dapat menjadi pedoman sekaligus peringatan bagi perjalanan hidup kita. Miskin bisa menjadi berkah bila dimanfaatkan untuk berkembang dalam hidup. Kaya bisa menjadi kutuk bila orang puas dan tidak lagi membutuhkan Allah dan sesamanya. Hidup miskin atau kaya patut disyukuri dan dinikmati. Sebab yang menentukan kebahagiaan hidup kita bukan keduanya, melainkan rasa syukur kita kepada Allah.
Tuhan Yesus sungguh mengasihi kita. Dia menunjukkan jalan bahagia untuk hidup kita. Kita dengarkan Sabda-Nya hari ini dan kita jadikan pedoman sebagai arah dan tujuan hidup kita.

Ya Tuhan, Engkau telah menciptakan manusia untuk menemukan kebahagiaan dalam Engkau. Peliharalah kerinduanku akan Engkau. Biarlah hatiku selalu berkobar-kobar untuk mencari-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Selasa, September 06, 2011

6 September 2011
Pekan Biasa XXIII (H)
St. Thomas Tzugi


Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.


Renungan
Sampai sekarang ini, Tuhan terus melanjutkan karya penyelamatan-Nya. Maka, Dia juga tidak pernah berhenti memanggil orang-orang pilihan-Nya.

Dikisahkan dalam Injil, Yesus memanggil para murid-Nya. Sebelum memilih dua belas murid-Nya untuk menjadi rasul-Nya, Yesus berdoa semalam-malaman kepada Allah. Dengan tindakan ini, Yesus mau menegaskan bahwa panggilan itu pertama-tama karya Allah. Dia memilih orang-orang pilihan-Nya sesuai yang dikehendaki-Nya.

Meski demikian, tanggapan dari pihak manusia juga sangat diperlukan dalam panggilan. Keterbukaan dan kesediaan untuk menanggapi panggilan Allah juga penting dalam terwujudnya sebuah panggilan. Bisa jadi banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang mau membuka diri. Ada banyak alasan hal yang membuat orang tidak mau membuka diri terhadap panggilan Tuhan.

Tuhan ingin melanjutkan karya penyelamatan-Nya di dunia ini. Maka, Dia memanggil dan memilih orang-orang yang mau diutus-Nya. Kemampuan dan keterampilan bukanlah menjadi kunci kesuksesan dalam panggilan, melainkan keterbukaan dan kesiapsediaan orang untuk hidup berakar dalam Kristus.

Ya Tuhan, Engkau meneruskan karya penyelamatan-Mu di dunia ini. Engkau memilih orang yang bersedia Kauutus. Buatlah banyak orang mendengarkan panggilan-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011

Senin, September 05, 2011

5 September 2011
Pekan Biasa XXIII (H)
B. Teresa dr Kalkuta; St. Laurensius Giustiniani


Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: ”Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: ”Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: ”Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Renungan
Ada sebuah pepatah kuno mengatakan ”Salus populi suprema lex” yang berarti ”hukum utama adalah keselamatan umat manusia”. Ungkapan ini hendak menegaskan bahwa keselamatan manusia harus didahulukan.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak dapat menerima karya Yesus. Tindakan Yesus yang menyembuhkan orang, dianggap melanggar peraturan hari Sabat. Bagi mereka, peraturan lebih penting daripada kesembuhan orang yang sakit. Mereka menempatkan aturan lebih tinggi daripada keselamatan manusia. Mereka marah kepada Yesus. Namun, Yesus tidak pernah gentar dengan reaksi mereka. Dengan sikapnya ini, Yesus ingin menegaskan kepada mereka bahwa kasih Tuhan kepada manusia tidak dapat dibatasi oleh aturan dan hukum buatan manusia.

Kebaikan hati orang yang sungguh beriman tidak mudah luntur. Sebab, hidupnya bagaikan bola pantul: makin keras dilemparkan ke bawah, makin tinggi melompat ke atas. Kita tidak boleh berhenti berbuat baik karena situasi dan kondisinya tidak mendukung, bahkan menghambat. Lebih mulia hidup orang yang menderita dan mati karena berbuat baik daripada tidak berbuat apa-apa.

Ya Tuhan, kebaikan-Mu sungguh nyata dalam diri Yesus. Dia menyelamatkanku melampaui segala aturan dan hukum. Jadikanlah aku murid-murid-Nya yang taat. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2011