Website Paroki St. Fransiskus Asisi Tebet sudah pindah domain
Anda akan dialihkan ke domain yang baru dalam (10) detik...







Jika pengalihan tidak berhasil silahkan klik DISINI untuk beralih secara manual

Jl.H.Ramli No.24, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan 12870 | Tel (021)8303111 | Fax (021)8318217 | E-mail sanfransis@gmail.com

SELAMAT DATANG, PINTU PESTA TUHAN TELAH TERBUKA UNTUK ANDA, SILAHKAN MASUK... "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. Jagalah dirimu di hadapannya dengarkanlah perkataannya" (Kel 23:20-21)

Halaman Muka | Renungan Harian | Dewan Paroki | Wilayah dan Lingkungan | Foto
Tampilkan postingan dengan label Ziarah Batin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ziarah Batin. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 17, 2012

17 Agustus 2012
HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA (P)
St. Gregorius Thaumaturgos; St. Gregorius dr Tours

Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: ”Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: ”Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: ”Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Renungan
Hari ini Bangsa Indonesia merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-67. Seluruh rakyat Indonesia patut merayakannya sebagai bentuk syukur dan ungkapan cinta akan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbagai macam kegiatan dilakukan untuk merayakan dan meramaikan HUT Kemerdekaan. Apa pun bentuk ungkapan perayaan yang dibuat, yang penting momen ini disadari penuh sebagai kesempatan untuk mensyukuri rahmat kemerdekaan, menyadari panggilan dan tanggung jawab mengisi kemerdekaan, serta mengingatkan kita semua pada cita-cita awal berdirinya negara kita. HUT Kemerdekaan ini merupakan saat yang tepat bagi kita sebagai bagian dari anak bangsa untuk menegaskan partisipasi dalam gerak dan proses pembangunan. Sekecil apa pun yang bisa kita buat, tetap berarti bagi bangsa dan negara kita.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan tanggung jawab dan peran sebagai warga negara sesuai dengan status dan keberadaan masing-masing. Pertanyaan untuk kita adalah tanggung jawab dan peran apa yang relevan untuk kita berikan kepada bangsa kita saat ini? Patut kita pikirkan bersama adalah memperkokoh pilar bangsa Indonesia, yakni NKRI, UUD 1945, PANCASILA dan SESANTI BHINNEKA TUNGGAL IKA. Mari, sebagai umat Katolik yang adalah bagian dari bangsa ini, berdaya upaya mempertahankan dan memperkokoh pilar tersebut.

Bapa yang mahabaik, aku mengucap syukur atas rahmat kemerdekaan bagi bang­sa­ku. Rahmatilah aku dan para pemimpin bangsaku, dengan segala berkat yang diper­lukan untuk mengambil bagian dalam mewujudkan bangsaku yang adil, makmur, dan sejahtera. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Selasa, Agustus 14, 2012

14 Agustus 2012
Pekan Biasa XIX
Pw. St. Maximilianus Maria Kolbe, Im.Mrt. (M)

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: ”Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguh­nya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barang siapa me­ren­dahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barang siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.

Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.

Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mem­punyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggal­kan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegu­nung­an dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegem­biraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang ti­dak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sur­ga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”


Renungan
Jawaban Yesus atas pertanyaan para murid tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga cukup mengherankan. Yesus menunjuk pada keberadaan diri seperti anak kecil sebagai syarat kelayakan bagi siapa yang akan masuk dan menjadi terbesar dalam Kerajaan Allah: Bertobat dan merendahkan diri seperti anak kecil. Sikap jujur, polos, dan tulus ikhlas, yang sering kali kita temukan dalam diri anak kecil, merupakan sikap yang berkenan di hadapan Allah. Oleh karena itu, perlu sekali berupaya untuk menjadikan diri kita bersikap jujur, tulus, dan polos di hadapan Allah.

Allah selalu menghendaki agar hidup kita baik. Semestinya menjadi harapan dan kerinduan kita senantiasa untuk bisa hidup baik di hadapan Allah dan sesama. Namun demikian, harus disadari bahwa keterbatasan dan kelemahan sebagai manusia memungkinkan untuk jatuh dalam kesalahan dan dosa. Justru karena kesadaran inilah, kita perlu terus-menerus membarui diri melalui pertobatan. Membarui diri terus-menerus melalui pertobatan hendaknya menjadi cara dan sikap hidup kita di hadapan Allah. Allah gembira dan menyambut dengan sukacita bagi kita yang senantiasa mau bertobat.

Allah Bapa yang mahabaik, aku selalu berharap pertolongan-Mu untuk memampukan aku membangun kehidupan yang lebih baik. Ingatkanlah aku selalu untuk setia dan jujur membarui diri sehingga aku hidup pantas dan berkenan bagi-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Jumat, Agustus 10, 2012

10 Agustus 2012
Pekan Biasa XVIII
Pesta St. Laurensius, Diakon & Martir (M)

”Aku berkata kepadamu: Sesungguh­nya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan meng­hasilkan banyak buah. Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barang siapa melayani Aku, ia harus me­ngikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barang siapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

Renungan
Pesta Santo Laurensius, Diakon dan Martir, hari ini merupakan kesempatan baik bagi kita untuk mengenangkan semangat pengabdiannya yang tangguh kepada Gereja. Ia melindungi harta milik Gereja dari perampokan dan perampasan, kemudian membagikan kepada orang-orang miskin. Ia sangat perhatian kepada orang-orang miskin dan menganggapnya sebagai kekayaan Gereja. Ia gugur sebagai martir dengan meninggalkan contoh yang luhur kepada kita, yakni keteguhan dalam mengabdi Gereja dan kecintaannya kepada orang-orang miskin yang membutuhkan pertolongan. Dua hal yang amat penting untuk dimiliki dan dihayati sebagai panggilan oleh seluruh warga Gereja.

Paulus memberikan peneguhan agar pemberian diri, pengabdian dan pelayanan kita didasarkan pada kasih, dilakukan dengan sukacita, bukan karena terpaksa. Melayani dan mengasihi orang lain terutama mereka yang miskin dan berkekurangan merupakan panggilan dari Tuhan dan sekaligus kesempatan yang indah bagi kita untuk membalas kebaikan Tuhan yang lebih dahulu melayani dan mengasihi kita. Melayani dan mencintai sesama yang membutuhkan berarti melayani dan mencintai Tuhan. Di mana ada kita sebagai pengikut Kristus Tuhan, di situ ada kasih dan pelayanan.

Ya Allah, dengan rendah hati aku mohon, berkenanlah memampukan aku untuk melayani dan mencintai orang lain, terutama mereka yang membutuhkan seturut teladan Santo Laurensius. Janganlah biarkan aku lupa atau lalai mengabdi-Mu dan sesama karena kesibukan atau kemalasanku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Jumat, Agustus 03, 2012

3 Agustus 2012
Pekan Biasa XVII (H)
St. Stefanus I, Paus

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: ”Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: ”Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ.

Renungan
Kejadian yang menimpa Yeremia sangat ironis. Upayanya menyampaikan firman Tuhan sebagai koreksi dan kritik atas perilaku yang menyimpang dari penduduk Yehuda justru ditentang dan ditolak. Yeremia diusir bahkan diancam untuk dibunuh. Hal yang sama juga dialami oleh Yesus. Orang-orang sekampungnya tidak menghargai kehadiran dan pengajaran-Nya hanya karena orangtua-Nya yang sudah dikenal sebagai tukang kayu dan saudara-saudara-Nya orang biasa-biasa saja. Betapa tidak, kesombongan dan keangkuhan selalu menjadi penyakit kronis dan penghalang bagi tercipta atau terwujudnya kebaikan dan keselamatan.

Jika hidup kita mau berkembang dan maju ke arah yang lebih baik maka salah satu sikap yang harus dimiliki adalah kerelaan dan kerendahan hati mendengarkan koreksi atau kritik dari orang lain. Koreksi dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan, apalagi kalau kita menyadari sebagai manusia yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Apabila ada saudara atau rekan, bahkan orang yang kurang kita kenal memberikan koreksi atas kekeliruan kita, maka kita harus bersyukur. Koreksi kita terima bukan hanya sebagai bentuk kepedulian orang lain kepada kita melainkan sebagai berkat yang sungguh kita butuhkan.

Ya Allah yang mahabaik, mampukanlah aku selalu rendah hati dan rela mendengar­kan koreksi dan kritik dari saudara-saudariku, karena hanya dengan demikian aku akan berkembang ke arah yang lebih baik dalam kehidupanku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Kamis, Agustus 02, 2012

2 Agustus 2012
Pekan Biasa XVII (H)
St. Eusebius Vercelli; B. Petrus Feber; St. Petrus Yulianus Eymard

”Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuh-kan di laut, lalu mengumpulkan ber­bagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: ”Ya, kami mengerti.” Maka berkatalah Yesus kepada mereka: ”Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ.

Renungan
Kepada Bangsa Israel, Tuhan menyatakan diri sebagai Allah yang komit dan setia dalam membentuk dan membimbing umat-Nya, melebihi kesetiaan dan komitmen tukang priuk dalam pekerjaannya. Sikap Tuhan yang demikian ada sejak dulu, sekarang, dan selama-lamanya. Kesadaran akan kebaikan Allah yang demikian harus selalu ada dalam hidup kita. Kesadaran akan kesetiaan dan kebaikan Tuhan kepada kita harus menjadi pendorong yang kuat dari diri kita untuk semakin percaya dan setia kepada-Nya.

Kepercayaan dan kesetiaan kepada Tuhan merupakan jalan yang lebar menuju Kerajaan Surga. Memang keselamatan manusia terutama karena cinta dan belas kasih Tuhan. Namun, kesetiaan dan kepercayaan serta hidup baik di hadapan-Nya menjadikan kita semakin pantas untuk berharap dan berkeyakinan dipilih oleh Tuhan untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga dan bukan sebaliknya dibuang dari hadapan-Nya. Bagaimana kepercayaan dan kesetiaan kita kepada Tuhan saat ini?

Allah yang setia dan penuh belas kasihan, semoga berkat-Mu aku nikmati sehingga memampukan aku untuk semakin setia dan percaya kepada-Mu, dan karenanya aku akan beroleh keselamatan. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Rabu, Agustus 01, 2012

1 Agustus 2012
Pekan Biasa XVII
Pw St. Alfonsus Maria de Liguori, UskPujG. (P)

”Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu di­pendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah dite­mu­kannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Renungan
Apa yang kita cari dan inginkan dalam hidup ini? Pertanyaan ini sering terlintas dalam kehi­dupan kita bahkan secara khusus sering menjadi tema permenungan dalam kesempatan khusus seperti rekoleksi atau retret. Pertanyaan ini penting diajukan kepada diri sendiri untuk mengingatkan dan menyadarkan kita akan orientasi kehidupan. Sebab, pada dasarnya sebagai umat beriman, kita tidak ingin terjebak dalam kehidupan yang tanpa arah-tujuan. Hidup harus dijalani dengan suatu kesadaran yang mendalam dan pengertian yang jelas akan apa yang kita cari dan dapatkan!

Hidup kita merupakan penziarahan, dengan harapan akan sampai pada tujuan akhir keselamatan kekal. Bukan suatu pengembaraan tanpa tujuan.

Melalui perumpamaan dalam perikop ini, Yesus mengingatkan kita bahwa hal penting yang perlu dicari dan didapatkan adalah Kerajaan Surga. Kerajaan Surga atau keselamatan diletakkan di atas segala-galanya. Dengan kata lain, segala yang kita miliki hendaknya menjadi sarana untuk menghantar kita menuju keselamatan. Kalau harus mengorbankan atau menjual apa yang kita miliki demi Kerajaan Surga, kita lakukan itu dengan rela dan penuh sukacita.

Allah sumber keselamatan yang sejati, bantulah aku selalu untuk setia dan teguh berupaya menggapai keselamatan yang telah Kaujanjikan kepadaku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Selasa, Juli 31, 2012

31 Juli 2012
Pekan Biasa XVII
Pw. St. Ignatius Loyola (P) St. Germanus; St. Yohanes Collumbini

Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: ”Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, kata-Nya: ”Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malai­kat-Nya dan mereka akan mengumpulkan se­ga­la sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratap­an dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti mata­hari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa ber­telinga, hendaklah ia mendengar!”

Renungan
Seorang pemuda nekad mencuri di sebuah perumahan mewah lantaran desakan ekonomi. Namun, nasib sial menimpanya. Ia tertangkap tangan, lalu dihakimi oleh warga sekitar yang geram karena ulah nekat pemuda itu. Untung saja petugas kepolisian berhasil mencegah tindakan anarkis massa yang main hakim sendiri ini. Nyawa pemuda itu dapat diselamatkan.

Pemuda itu tidak menaburkan benih baik, tetapi benih jahat. Maka, hasil yang dia terima bukanlah pujian atau sanjungan melainkan cercaan dan hujatan. Siapa pun yang menabur kebaikan akan mendapat hal yang baik. Begitu pun sebaliknya. Upah amal kasih dan perbuatan baik adalah surga; upah dosa adalah maut! Orang-orang berdosa hidup di bawah bimbingan Iblis dan kuasa kegelapan dunia ini, sementara orang yang baik hidup di bawah bimbingan Roh Allah sendiri. Orang berdosa akan dikumpulkan, lalu dicampakkan ke dalam neraka jahanam; di sana akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Orang yang baik menikmati sukacita abadi bersama Allah di surga.

Yesus dalam Injil hari ini dengan sangat jelas melukiskan semuanya ini, tetang apa yang akan terjadi dengan hidup kita kelak. Apakah kita dicampakkan ke dalam neraka ataukah beroleh hidup bahagia di surga, semua tergantung pada kita yang menjalaninya. Karena hidup digerakkan oleh tujuan, maka pilihan akhirat kita menentukan sikap dan perilaku kita saat ini.

Allah Bapa sumber keselamatan, sejak aku hidup, aku senantiasa mengharapkan ke­ba­hagiaan abadi; itulah yang kurindukan selalu, berdiam bersama-Mu selamanya. Per­ba­ruilah diriku agar pantas masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Senin, Juli 30, 2012

30 Juli 2012
Pekan Biasa XVII (H)
St. Petrus Krisologus; St. Yustinus de Yakobis; St. Abdon dan Senen; Sta. Yulita dr Kaesarea

Yesus membentangkan suatu per­um­pamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: ”Hal Kerajaan Surga itu seum­pama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang ber­sarang pada cabang-cabangnya.” Dan Ia men­ceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka: ”Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: ”Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”

Renungan
Pertumbuhan pohon sesawi dipakai Yesus untuk menggambarkan pertumbuhan iman kita. Iman yang semakin bertumbuh dan berkembang, suatu saat akan menghasilkan buah yang melimpah. Jika buah melimpah panenan pasti banyak; jika panenan banyak, pasti banyak para pendatang. Bagaikan pohon sesawi yang didatangi banyak burung, untuk berteduh, sekadar singgah, membuat rumah bahkan mencari makan pada pohon itu juga.

Ragi juga menjadi salah satu gambaran yang baik untuk melukiskan kharisma iman dalam hidup seseorang. Ragi itu tampak tidak berarti dan tidak kelihatan, namun ia menyusup masuk ke seluruh adonan dan memengaruhi dari dalam sehingga adonan itu berkembang besar dan enak. Iman yang ada dalam diri seseorang itu bagai ragi yang bekerja diam-diam, dari dalam, memengaruhi seluruh hidup seseorang. Namun, seperti ragi, harus diaduk dulu ke dalam tepung sampai merata semuanya supaya dapat bekerja efektif, demikianpun iman harus diolah dengan baik dan dirawat supaya bisa efektif memengaruhi hidup kita secara keseluruhan.

Yesus telah menabur benih iman ke dalam diri kita. Betapa Ia sangat mengharapkan iman itu bertumbuh bagai biji sesawi, dan efektif memengaruhi seluruh hidup kita bagai ragi, sehingga menjadi semakin berkualitas dan bermanfaat. Maka, mari kita merawat iman kita dan mengolah kehidupan rohani kita agar senantiasa menghasilkan buah yang baik dan berlimpah.

Tuhan, aku ingin merawat imanku dan mengolah hidup rohaniku dengan baik agar bermanfaat bagi banyak orang. Bimbinglah aku dalam mewujudkan niatku ini. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Jumat, Juli 27, 2012

27 Juli 2012
Pekan Biasa XVI (H)
B. Maria Magdalena Martinengo; B. Titus Brandsma St. Pantaleon; St. Aurelius dan Sta. Natalia

”Karena itu, dengarlah arti per­um­pa­maan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak menger­tinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila da­tang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditabur­kan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang dita­bur­kan di tanah yang baik ialah orang yang men­dengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”

Renungan
Pasar tradisional di Indonesia sering kali menjadi tempat perjumpaan yang menyenangkan. Di sana orang saling menyapa dan mengenal satu sama lain sambil berbelanja. Ada kehangatan di sana karena perjumpaan yang terjalin melibatkan seluruh diri mereka, tanpa embel-embel lain. Dengan demikian, relasi yang dibangun pun menjadi berkesan dan bertahan lama. Berbeda dengan pasar modern atau pasar tradisional yang dimodernkan saat ini, orang datang ke sana hanya untuk membeli. Keramahan di pasar modern menjadi abu-abu. Si pelayan memberikan sapaan manis hanya karena tuntutan pekerjaan dan uang.

Sabda Yesus menjadi menarik ketika diwartakan dengan cara sederhana. Sabda Yesus menjadi berkualitas apabila masing-masing orang meresapkannya dalam hati dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Dengan demikian, benih iman yang telah ditaburkan itu akan berurat akar dalam diri kita, menjadi dasar keberadaan kita, sekaligus mewarnai sikap dan tindakan kita. Maka, apa saja yang kita lakukan, menjadi kesaksian nyata akan iman kita. Hidup kita pun menjadi kokoh dan bermakna.

Iman yang sudah mengakar dalam diri kita pasti akan berbuah berlimpah, dan akan menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar. Jika tidak, kita hanya menjadi diri kita sendiri yang kerdil dan tak berkembang. Mati dalam himpitan ketakberdayaannya sendiri. Tentu kita sendiri tidak mau menjadi orang beriman yang sia-sia.

Ya Allah, semoga semakin hari imanku semakin menguat dan berurat akar dalam diriku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Kamis, Juli 26, 2012

26 Juli 2012
Pekan Biasa XVI
Pw St. Yoakim dan Ana, Orangtua SP Maria

”Tetapi berbahagialah matamu kare­na melihat dan telingamu kare­na mendengar. Sebab Aku ber­kata ke­pa­damu: Sesung­guhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mende­­ngar apa yang kamu dengar, tetapi tidak men­de­ngarnya.”

Renungan
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Ketika melewati perempatan jalan, mobil tersebut tetap melaju tanpa melihat rambu-rambu lalu lintas. Padahal sedang lampu merah. Dan, tabrakan dahsyat pun tak terkendalikan. Kecelakaan mengenaskan tersebut terjadi bukan karena tidak ada tanda penunjuk, tetapi akibat kelalaian seseorang yang tidak mengindahkan peraturan lalu lintas. Banyak orang melihat tanda, tetapi tidak mengindahkannya. Banyak orang menjadi terancam keselamatannya gara-gara ketidakpedulian seseorang.

Yesus merupakan tanda kehadiran kasih Allah di dunia ini. Kita semua boleh mengatakan berbahagia karena kita mengenal, mendengar, dan melihat bukti karya penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus yang bangkit. Kita berbahagia karena menjadi orang-orang pilihan Allah yang mengasihi dan dikasihi oleh Allah. Namun terkadang kita lupa diri dan tidak mengindahkan keterlibatan Allah dalam hidup kita.

Kita suka berjalan dengan kesenangan kita sendiri, mengikuti hawa nafsu kita yang tidak sejalan dengan kehendak Allah. Di sinilah kita akan terjatuh dan terjatuh lagi akibat kebodohan kita sendiri. Yesus tentu sangat menyayangkan sikap kita seperti ini. Ia mengharapkan kita untuk benar-benar menjadi orang yang berbahagia karena memiliki mata iman untuk melihat jalan keselamatan Allah dan telinga yang peka untuk mendengar bisikan kasih Allah.

Tuhan Yesus, terima kasih, Engkau telah mempercayakan aku untuk melihat keselamatan yang berasal dari-Mu. Semoga aku selalu menjaga diriku agar senantiasa berada di jalan keselamatan-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Rabu, Juli 25, 2012

25 Juli 2012
Pekan Biasa XVI
Pesta St. Yakobus, Rasul (M)

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk me­minta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: ”Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: ”Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: ”Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: ”Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: ”Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain ke­­pada kedua saudara itu. Tetapi Yesus me­mang­gil mereka lalu berkata: ”Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan
Seorang mahasiswi dari keluarga yang sangat berada, rela menjadi pembantu rumah tangga untuk membiayai kuliahnya sendiri. Keinginannya untuk belajar mandiri tidak diketahui oleh pihak keluarganya. Uang saku yang dikirimkan oleh orang tuanya tidak berkurang banyak. Semasa menjadi pembantu rumah tangga ia merasakan bagaimana menjadi orang yang dipandang kecil. Pekerjaan yang dilakukannya memang tidak sempurna, tetapi ia belajar menyempurnakan diri untuk menjadi orang baik. Cacian dan celaan dari majikannya ia terima terus-menerus saat bekerja. Majikannya memarahi bahkan sering pula melempar benda keras ke arah mahasiswi ini. Tetapi, ia mencoba bertahan dan tetap kuat menjadi seorang pembantu rumah tangga hingga kuliahnya selesai.

Yesus adalah anak Allah yang Mahatinggi. Kedudukan-Nya begitu tinggi, namun Ia toh mau menjadi manusia sama seperti kita. Ia mau menjadi kecil untuk meneladankan kebaikan-kebaikan. Yesus menegaskan dengan contoh diri-Nya sendiri, bahwa siapa pun yang mau menjadi besar hendaklah ia menjadi pelayan. Seorang yang besar hendaklah melakukan pelayanan yang baik dari hal-hal yang paling kecil sekalipun. Lebih indah melayani lebih dulu daripada hidup dilayani dan bergaya untuk dilayani. Membiarkan diri dilayani adalah bentuk kesombongan ketika kita seharusnya masih mampu melayani sesama.

Tuhan, biarkanlah aku menjadi alat-Mu untuk sesama, biarkanlah aku lebih dulu melayani, dan menghindari godaan untuk selalu dilayani. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Selasa, Juli 24, 2012

24 Juli 2012
Pekan Biasa XVI (H)
St. Kristoforus; Sta. Kristina; St. Sharbel Makhluf; B. Yohanes Soreth

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan ber­usaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: ”Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: ”Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: ”Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Renungan
Sebagai seorang anak yang baik, Yesus tentu sangat mengenal Maria sebagai ibu-Nya, demikianpun sebaliknya, Maria sangat mengenal siapa Yesus itu. Mereka berdua sama-sama mengerti perannya masing-masing dalam karya keselamatan Allah.

Mendengar Yesus mempertanyakan: Siapa ibu dan saudara-saudara-Nya, tidak membuat Maria terkejut. Justru dalam hatinya Maria bangga karena Yesus sedang memuji dirinya. Betapa tidak, kriteria saudara-saudara dan Ibu Yesus sepenuhnya dimiliki Maria: Ia telah melakukan kehendak Bapa di surga, bahkan telah dirahmati Allah sejak dari dalam kandungan.

Dengan mengatakan hal ini, Yesus hendak membuka relasi yang lebih luas lagi bagi kita dan mengajak kita untuk menjadi ibu dan saudara-saudara-Nya, dengan satu syarat: Hanya melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Jika kita melakukan kehendak Bapa, kita adalah saudara-saudari Yesus. Kita mendapatkan keistimewaan untuk tinggal bersama Yesus dalam satu keluarga besar Allah. Sebagaimana Yesus telah memperluas relasi-Nya dengan kita, kita pun hendaknya juga demikian, membiarkan semakin banyak orang mengenal Allah dan mau melaksanakan apa yang Allah kehendaki. Kita membuka diri untuk juga menjadi saudara dan ibu bagi orang lain.

Bapa, ajari aku untuk selalu melakukan kehendak-Mu sehingga aku boleh menikmati janji-janji-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Senin, Juli 23, 2012

23 Juli 2012
Pekan Biasa XVI (H)
Sta. Birgitta; St. Apolinaris

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ”Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: ”Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!”

Renungan
Yesus diminta beberapa ahli Taurat dan orang Farisi untuk memperlihatkan suatu tanda kepada mereka agar mereka percaya. Saat itu Yesus tidak memberikan tanda yang baru, selain mengingatkan mereka kembali akan kisah Nabi Yunus dan juga hikmat Salomo. Dengan mengangkat kembali kisah kedua tokoh ini, Yesus mau mengatakan bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi yang mengerti Kitab Suci ini, seharusnya sudah tahu siapa Yesus yang berhadapan dengan mereka saat ini. Namun, hati mereka tetap degil, tidak mau terbuka untuk menafsir Kitab Taurat secara baru dalam terang warta keselamatan Yesus. Bahwa apa yang terjadi dengan Nabi Yunus dan umat di Niniwe adalah gambaran tentang Yesus dan sikap umat Yahudi saat ini. Seperti Nabi Yunus, Yesus sedang berhadapan dengan umat Allah yang degil hatinya.

Kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat tersebut Yesus juga mengingatkan mereka akan Salomo yang amat bijak itu. Yesus memperlihatkan satu hal bahwa justru Ratu dari negeri seberang yang memuji hikmat Salomo dan datang menimba ilmu padanya. Demikian juga Yesus, hikmat-Nya jauh lebih daripada Salomo dan rahmat kehadiran-Nya akan terbuka bagi semua orang yang percaya kepada-Nya, tidak hanya untuk orang Yahudi.

Yesus meminta kita untuk cerdas membaca tanda-tanda zaman. Kita hendaknya terbuka untuk melihat segala peristiwa dalam hidup kita dalam terang keselamatan Yesus. Di sana, dalam setiap peristiwa hidup kita, Tuhan hendak menyampaikan sesuatu yang perlu bagi keselamatan jiwa kita.

Tuhan Yesus, aku percaya, Engkau senantiasa menyertai aku sampai akhir zaman. Semoga hatiku terbuka untuk melihat tanda-tanda kehadiran-Mu yang menyelamatkan dalam setiap peristiwa hidup yang aku alami. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Jumat, Juli 20, 2012

20 Juli 2012
Pekan Biasa XV (H)
Elia, Nabi; Sta. Margaretha dr Antiokhia; St. Vinsent Kaun; St. Apollinaris, Usk.Mrt.

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, ber­katalah orang-orang Farisi kepada-Nya: ”Lihat­lah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ”Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagai­mana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak meng­hukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan
Bacaan Injil hari ini memperlihatkan sikap Yesus dan orang Farisi berhadapan dengan aturan hukum Sabat yang berlaku wajib untuk semua orang. Orang Farisi memandang hukum sebagai sesuatu yang statis, sehingga penghayatannya pun menjadi kaku. Selama aturan hukum itu belum dicabut menurut prosedur hukum yang berlaku, maka walaupun isinya jahat atau betapapun isinya sudah bertentangan dengan kewajaran hidup manusia, tetap berlaku sebagai hukum dan wajib ditaati. Yang melanggar akan mendapat sanksi hukum.

Cara memandang hukum dan peraturan seperti inilah yang mau dilawan oleh Yesus, bahwa hukum itu tidak statis, tetapi dinamis. Hukum itu bukan bagian dari lembaga, entah itu negara atau institusi agama, tetapi bagian dari hidup manusia dan karena hidup manusia itu dinamis maka hukum juga dinamis. ”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,” tegas Yesus (Mrk. 2:27). Yesus memiliki cara pandang hukum yang progresif dan dinamis, bahwa hukum adalah untuk manusia. Keyakinan seperti ini tidak melihat hukum sebagai sesuatu yang sentral dalam berhukum, melainkan manusialah yang berada di titik pusat perputaran hukum. Hukum itu berputar di sekitar manusia sebagai pusatnya dan manusia tidak pernah boleh menjadi tawanan hukum. Selain itu, Yesus juga hendak menegaskan bahwa hukum itu harus adil. Kalau hukum sudah tidak adil—yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan— maka itu sudah bukan hukum. ”... tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah” (Mat. 12:7).

Sebagai pengikut Kristus, mari kita menggunakan cara pandang Yesus dalam memandang hukum dan berani bersikap seperti Yesus ketika berhadapan dengan ketidakadilan dan kesesatan, atau hal apa saja yang melecehkan kemanusiaan atas nama penghayatan hukum yang salah.

Tuhan Yesus, bukalah hati dan pikiran semua orang yang terlibat dalam dunia hukum, agar seperti Engkau, menghayati hukum yang manusiawi dan adil. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Kamis, Juli 19, 2012

19 Juli 2012
Pekan Biasa XV (H)
St. Arsenius Agung; Sta. Aurea

”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Renungan
Iklan yang terpampang jelas di pinggir jalan menawarkan suatu produk bermutu untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya. Tawaran-tawaran iklan sungguh menarik dan mampu mengundang siapa saja tanpa batas, tidak memandang ia berasal dari golongan atas, menengah ataupun bawah. Kalau kita menginginkannya dan ada duit cukup, kita tinggal memilih, memutuskan, dan menjadi pemilik produk itu.

Ajakan Yesus ”Marilah kepada-Ku....”, merupakan suatu ajakan cuma-cuma yang ditujukan kepada kita. Siapa pun boleh datang dan hadir, dan menjadi penikmat ajakan Yesus agar kita datang kepada Allah, supaya hidup kita semakin berkualitas. Yesus menawarkan kebahagiaan dan kelegaan yang berasal dari Allah sendiri, bukan dari dunia ini. Kita tidak perlu memiliki duit yang cukup, hanya butuh sikap lemah lembut dan rendah hati di hadapan Allah untuk bisa memilikinya. Siapa pun yang mau rendah hati di hadapan Allah akan mendapatkannya dalam segala kelimpahan.

Sementara orang sombong dipandang hina di hadapan Allah. Kesombongannya memperlambat gerak menuju kebahagiaan hidup bersama Allah.

Yesus, ajakan-Mu membuat aku semakin yakin bahwa Bapa selalu memberikan tempat bagiku untuk hidup bersama-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Rabu, Juli 18, 2012

18 Juli 2012
Pekan Biasa XV (H)
Penampakan I Maria kepada Sta. Catharina Labouré St. Frederik dr Utrecht; St. Simforosa dan putra-putranya

Pada waktu itu berkatalah Yesus: ”Aku ber­syukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”

Renungan
Mensyukuri kelimpahan hidup, rezeki, dan berkat adalah ciri khas manusia beriman. Orang beriman percaya bahwa ada kuasa ajaib yang hebat melampaui kekuatan manusia untuk mengatasinya, yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dan menjadikan indah segala sesuatu pada waktunya. Dialah Allah yang maha pengasih dan pemurah.

Kesadaran iman inilah yang mengalirkan rasa syukur yang mendalam setiap kali berkat tercurah dan rahmat mengalir ke atas dirinya. Juga kesadaran yang sama pula yang membuat orang beriman tenang dalam menghadapi situasi buruk dalam hidupnya. Ia percaya, ada rencana Tuhan yang indah di balik suasana kelam hidupnya. Ia optimis, di balik kabut gelap hidupnya, mentari kasih Tuhan tiada redup bersinar. Inilah semangat hidup seorang beriman yang juga diperlihatkan Yesus sendiri dalam Injil hari ini. Yesus mensyukuri karya Tuhan yang dinyatakan dalam diri orang kecil dan hina.

Terlebih Yesus mengajak kita untuk juga bersyukur atas karunia iman yang kita miliki ini. Semangat ”selalu bersyukur” ini hendaknya juga menjadi semangat kita. Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Aku ber­syukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, atas segala yang indah yang Kauberikan kepadaku, terutama karunia untuk mengenal-Mu lebih dalam lagi. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Selasa, Juli 17, 2012

17 Juli 2012
Pekan Biasa XV (H)
St. Alexis; Sta. Yuli Postel; Sta. Magdalena Postel

Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya: ”Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.”

Renungan
Tetap tenang dalam menghadapi suatu peristiwa atau kejadian dalam hidup ini serta mau belajar dari kesalahan masa lalu dan tergerak hati untuk bertobat, akan mempermudah kita keluar dari masalah untuk menata hidup menjadi lebih baik lagi. Jika tidak, orang tersebut akan mendapat kutukan sebagai akibat dari perbuatan buruknya.

Yesus memberi penegasan pada hari ini, bahwa kita hendaknya bijak dalam menghadapi suatu perkara, jangan sampai menyesali perbuatan dan cara penyelesaian yang tidak baik. Penghakiman terhadap hal yang kurang baik menjadi ukuran bagi manusia. Tetapi, kemampuan manusia untuk bertobat dari dosa-dosanya, untuk membenahi hidup kita kembali agar selaras dengan kehendak Tuhan, akan menghasilkan hal yang baik untuk keselamatan kita. Yesus sangat mengutuk orang-orang yang tidak pernah membenahi dirinya sendiri. Yesus mengecam orang-orang yang nyaman berkubang dalam lumpur dosa, bahkan meramalkan masa depan yang mengerikan bagi mereka.

Yesus, ampunilah aku orang berdosa ini dan bebaskanlah aku dari kutukan dosa agar aku bisa berjalan tenang dalam menata hidupku menjadi lebih baik lagi. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Senin, Juli 16, 2012

16 Juli 2012
Pekan Biasa XV (H)
Sta. SP Maria dr Gunung Karmel; Sta. Reinildis; B. Para Perawan Martir Orange

”Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan un­tuk mem­ba­wa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayah­nya, anak perempuan dari ibunya, menan­tu perem­puan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barang ­siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehi­langan nyawanya karena Aku, ia akan mem­perolehnya. Barang siapa menyambut ka­mu, ia me­nyambut Aku, dan barang siapa me­­nyam­­but Aku, ia menyambut Dia yang meng­utus Aku. Barang siapa menyambut seorang nabi se­bagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barang siapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barang siapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah se­orang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.


Renungan
Kehilangan orang terdekat, sahabat, benda-benda, dan segala sesuatu yang disukai bahkan disayangi sangat menyakitkan. Terkadang kita menyesali diri sendiri kenapa harus merasakan kehilangan. Sungguh tidak enak memang. Kehilangan merupakan peristiwa menyakitkan dan menjengkelkan. Tetapi, pengalaman kehilangan menjadikan kita tahu bahwa kita tidak bisa terikat terus-menerus dengan apa yang kita sayangi.

Pengalaman semacam ini menjadi hal yang menarik karena hampir setiap orang merasakan kehilangan sesuatu. Tetapi, lebih menarik lagi kalau ada sesuatu hal baru yang dijumpai setelah kehilangan.

Yesus mengharapkan para murid-Nya untuk tidak terpaku pada satu hal saja, supaya kita dapat menyelesaikan perkara yang lain. Memilah mana yang penting dan kurang penting. Mengerjakan mana yang mesti dikerjakan agar kita bisa fokus dan menyelesaikannya dengan baik. Kita mesti mempunyai keyakinan bahwa kita akan memperoleh sesuatu hal yang lebih baik ketika kita mampu meninggalkan cara hidup yang lama dan melepaskan apa yang berharga untuk orang lain. Kita tidak akan kekurangan kalau kita selalu memberi dan memberi. Dengan memberi, justru kita diberi lebih lagi. Seperti dikatakan Yesus hari ini: ”Barang siapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah se­orang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Tuhan Allahku, buatlah aku semakin mengerti apa yang harus aku perjuangkan, bah­wa apa yang sederhana dari diriku menjadi cara bagiku untuk mencintai-Mu. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Kamis, Juli 12, 2012

12 Juli 2012
Pekan Biasa XIV (H)
St. Yohanes Gualbertus; St. Feodor dan Joan; St. Nabor dan Felix; St. Uguzo atau Lusio

”Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat ping­gangmu.

Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, beri­lah salam kepada mereka. Jika mereka la­yak menerimanya, salammu itu turun ke atas­­nya, jika tidak, salammu itu kembali kepa­damu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluar­­lah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”


Renungan
Orang-orang dalam suatu daerah dan kultur tertentu mengartikan kata guru sebagai seseorang yang harus digugu dan ditiru. Digugu berarti didengarkan, dipercaya, dan ditaati ajarannya. Ditiru berarti segala tingkah laku dan perbuatannya menjadi teladan.

Yesus adalah guru bagi para murid-Nya. Semasa hidup-Nya, Yesus menghadirkan Kerajaan Allah ke tengah dunia. Ia menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, memberi makan orang lapar, dan mengusir setan-setan. Kalau Yesus sebagai guru sudah melakukan semua itu dan memerintahkan kepada para murid untuk melakukan hal yang sama, maka para murid pun juga harus melaksanakannya.

Kita sebagai murid-murid Yesus di zaman sekarang juga mengemban tugas yang sama. Kita diutus untuk menghadirkan Kerajaan kasih dan kebenaran Allah melalui perkataan dan perbuatan kita yang nyata, sehingga mereka yang mengalami kasih Allah itu akan menemukan kehidupan baru, yaitu kesembuhan, kebangkitan, kesucian, dan dibebaskan dari segala kegelapan. Kita tidak usah takut dan cemas untuk mewartakan kasih, menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia ini, karena Tuhan sendiri akan senantiasa menyertai dan memampukan kita untuk melaksanakan tugas luhur itu.

Tuhan Yesus Kristus, aku bersyukur bahwa Engkau senantiasa memenuhi kebutuhan hidupku berkat kemurahan dan kebaikan-Mu. Semoga aku senantiasa mampu mewartakan dan membagikan kasih dan kebaikan-Mu itu kepada sesamaku. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012

Rabu, Juli 11, 2012

11 Juli 2012
Pekan Biasa XIV
Pw St. Benediktus, Abbas (P) Sta. Olga (Helga); Martir-martir Vietnam

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: ”Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.”

Renungan
Yesus memanggil kedua belas murid yang juga biasa disebut rasul. Rasul yang dalam Bahasa Yunani disebut Apostolos berarti utusan. Kedua belas rasul tersebut dipanggil dan dipilih kemudian diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat, melenyapkan segala penyakit dan kelemahan, dan akhirnya diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah yang sudah dekat.

Kita semua telah dipanggil dan dipilih menjadi murid-murid Kristus. Kita pun juga mem­punyai tugas perutusan yang sama untuk mewartakan Kerajaan Allah. Dari berbagai macam latar belakang profesi, kita semua telah dipanggil dan dipilih menjadi saksi dan penyalur berkat Kristus kepada dunia kita. Melalui profesi kita masing-masing jugalah kita diutus untuk menjadi garam dan terang dunia, menjadi tanda kehadiran Kristus yang menyelamatkan dan membebaskan. Kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah dengan menjadi murid Kristus, maka kita juga harus mewartakan dan memberikan karunia tersebut kepada orang lain.

Tuhan Yesus Kristus, aku bersyukur bahwa Engkau telah berkenan memilih aku men­jadi murid-Mu. Semoga aku pun juga selalu sanggup menjadi pewarta cinta kasih-Mu, sehingga semakin banyak orang tertarik untuk mengikuti Engkau. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2012