Website Paroki St. Fransiskus Asisi Tebet sudah pindah domain
Anda akan dialihkan ke domain yang baru dalam (10) detik...







Jika pengalihan tidak berhasil silahkan klik DISINI untuk beralih secara manual

Jl.H.Ramli No.24, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan 12870 | Tel (021)8303111 | Fax (021)8318217 | E-mail sanfransis@gmail.com

SELAMAT DATANG, PINTU PESTA TUHAN TELAH TERBUKA UNTUK ANDA, SILAHKAN MASUK... "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. Jagalah dirimu di hadapannya dengarkanlah perkataannya" (Kel 23:20-21)

Halaman Muka | Renungan Harian | Dewan Paroki | Wilayah dan Lingkungan | Foto

Rabu, Februari 25, 2009

25 Februari 2009, RABU ABU


Renungan

Sebuah Retret Agung kita mulai pada hari Rabu Abu ini. Dan kita diajak untuk menaruh kepedulian bersama untuk sebuah fokus perhatian sebagai bukti nyata bahwa kita sedang bertobat, berbalik kepada Allah dan secara konkret mengubah perilaku yang tidak berkenan kepadaNya dan merugikan sesama, bahkan semesta alam. Berpantang dan berpuasa dengan intensitas doa yang mendalam adalah cara lazim dalam mengisi seluruh proses Retret Agung ini. Gereja mempercayakan proses ini pada tanggung jawab individu daripada mengontrolnya secara ramai-ramai. Dalam hal ini, kebebasan kita sungguh amat dihargai, bahwasannya urusan ini adalah urusan pribadi saya dengan Allah, dengan sesama, dan dengan lingkungan hidup kita, baik yang manusia maupun yang non manusiawi. Memang yang mendasar perlu diproses adalah sikap hati, batin, jiwa: bukan penampakan lahiriah yang bisa dipamer-pamerkan kepada orang lain. Dengan proses seperti ini dalam terang Kitab Suci seakan kita mau membujuk Allah supaya Dia tidak jadi marah, supaya hukuman tidak jadi ditimpakan kepada kita.

Namun, melalui proses Retret Agung, yang memang lama dan panjang, kita juga ingin mengalami bahwasanya dalam hidup ini, kita tidak hanya bergantung kepada makanan dan minuman. Atau, kita mau menggeser cara hidup kita-yang mungkin cenderung materialistik dan hedonistik - menjadi lebih spiritual, sosial dan yang lebih mendalam lagi menyadari bahwa keberadaan kita bergantung penuh kepada Allah Yang Mahakuasa. Kita yang berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu ini diberi kesempatan untuk “mengecas” diri pada aliran keutamaan Ilahi, seperti iman, harapan dan kasih. Ya, seperti Ayub telah menyadarinya.

Ya Allah Bapa, satu pintaku: menjadi tetap setia kepadaMu melalui pantang dan puasa; melalui kesulitan-kesulitan melawan hawa nafsu. Bentuklah aku dengan daya IlahiMu untuk menjadi manusia baru. Amin.

Diambil dari Ziarah Batin 2009

0 comments: